MENCARI PELAKU TABRAK LARI

RISKY ARBANGI NOPI

Oleh: Risky Arbangi Nopi

Setelah kematian satu tahun yang lalu. Aku bangkit dari ingatanku. Aku tertabrak oleh mobil Brio putih saat hujan menyeberangi malam. Jalan yang basah digenangi dengan lubang-lubang kematian. Jerit-jerit penolakan tentang kematian yang tak direncanakan, kabur terbawa derasnya klakson yang menyerbu wajahku. Tamparan hebat, dengan benturan lampu mobil yang kuat. Seketika, jalanan menjadi saksi bisu atas tabrak lari.

Aku ditemukan setelah embun menyapu tubuhku. Jalan dipenuhi dengan lumpur darah. Jeritan manusia yang sontak meramaikan berita terkini. Puluhan manusia berlarian menuju lokasi. Wartawan menyerbuku, mengharapkan sebuah teka-teki atas pertanyaan yang  telah tersusun rapi. Aku hilang dan mungkin sudah mati, ragaku hancur seperti lukisan abstrak yang tidak berbentuk, namun mahal untuk kau dapatkan sebuah jawaban.

***

Musim dingin yang kian menyengat perasaanku. Tanpa sadar bulan hampir menunjukan musim kemarau yang kian menghilang. Akan tetapi, menjelang hari-hari bahagia menikmati musim, terkadang musim selalu menawarkan sebuah teka-teki. Kehadirannya, membawa tanda tanya, sama halnya dengan cinta, terkadang tak mengenal musim. Perihal musim, cinta kerap pura-pura dalam cuaca yang ditampilkan. Perihal tampilan, kadang sempat terlintas pergi di masa lalu. Semua kenangan yang pernah kugenggam antara kau dan aku. Kini habis di makan sebuah luka.

Kopi membuyarkan lamunanku. Aroma yang sedap ditemani asap yang mengebul. Kintamani, kopi Bali yang aku dapatkan setelah berlibur selama satu minggu. Untuk mendapatkan memang tidak terlalu sulit, hanya saja, aku sengaja jauh-jauh dari Jakarta ke Bali hanya untuk membeli kopi Kintamani kesukaanmu dulu. Melewati jalan yang sama, dengan kendaraan yang sama, namun kau tak ada disana.

Berita di Koran yang kubaca berulang-ulang mengenai kejadian tabrak larimu, masih menyisakan sebuah teka-teki. Siapa pembunuh sebenarnya, siapa yang tega merampas kebahagiaan kita berdua sayang? Tak ada satupun media yang menemukan jawabannya. Hanya kronologis wanita muda berumur dua puluh enam tahun tertabrak lari di seberang jalan. Sumpah aku akan menemukan jawabannya sayang. Agar kau tenang disana, dan damai di surga.

***

Aku melihat mobil ambulans putih berhenti di seberang jalan. Aku tidak tau siapa yang memberitahu keberadaanku. Banyak orang-orang melihatku dengan wajah terheran-heran dan kasian. Petugas ambulan bergegas memeriksaku yang masih tak sadarkan diri. Atau mungkin aku tak bisa kembali tersadar. Wajahku hancur seperti semangka pacah, hampir saja tidak berbentuk. Berlumur darah segar yang menimbulkan bau anyir. Sungguh orang-orang yang melihatku akan berkata “Sungguh tragis, wanita muda yang nahas.”

Baca Juga:  Kumpulan Puisi Oleh: RISKY ARBANGI NOPI

Aku dilarikan ke rumah sakit yang terdekat. Kedua orangtuaku datang menyusul. Mereka mengejarku, menangis tanpa henti melihat tubuhku yang penuh darah. Aku seperti daging segar yang baru saja terbunuh, hanya saja tak berbentuk. Kakiku patah, sampai-sampai tulang yang ada didalamnya keluar merobek daging dan kulitku. Aku melihat Mama menangis keras-keras, Papa kemudian memeluknya. Maaf, aku tak bisa memelukmu Ma. Kemudian aku di bawa ke ruang IGD.

“Mama gak mau kehilangan anak kita satu-satunya Pa.” Mama masih terlihat syok, air matanya begitu deras. Tubuhnya lemas. Wanita paruh baya itu tak kuasa menahan tangis yang membendung di kelopak matanya.

“Tenang Ma tenang, Anjani baik-baik saja kok.” Memang, Papa adalah yang paling terlihat tegar dan mampu mengendalikan diri.

Aku melihat Papa merangkul Mama yang lemas. Mereka menunggu di kursi tunggu, saling menguatkan dan berdoa. Menangis tak dapat menyelesaikan masalah, yang ada hanya makin menimbulkan masalah. Aku melihat mereka mengepalkan tangan masing-masing, berdoa untuk meminta kesadaranku.

***

Pukul empat sore setelah pulang kerja, aku bergegas menuju lokasi kejadian tabrak lari yang menimpa kekasihku. Jarak dari kantor menuju lokasi tidak terlalu jauh, sekitar 10km. Saat ditengah perjalanan, disebuah pertigaan, lampu merah menyuruhku untuk berhenti. Sontak aku sedikit kaget, sebab pikiranku masih belum bisa konsentrasi sejauh ini. Kemudian, aku tiba-tiba saja dihampiri seorang lelaki paruh baya. Usianya sekitar lima puluh tahun, ia mengetuk kaca mobilku dengan telunjuk jarinya. Aku kira ia adalah pengemis yang ingin meminta uang. Saat aku sedang mengambil dompetku dan akan membuka jendela kaca mobil, ia kemudian mengeluarkan pisau dan berkata “Mati kau! Mati! Hahaha.”

Baca Juga:  BERITA ORANG HILANG DI MAKAN OLIGARKI

Lampu seketika berubah menjadi kuning, dan berpindah menjadi hijau. Aku dibuat kaget dengan pemandangan kali ini. Ada orang gila yang akan membunuhku lewat kaca mobil. Ia kemudian tertawa sekeras-kerasnya.  Kendaraan di belakangku menderu dengan suara klakson yang saling bertubrukan. Aku meninggalkan orang gila itu, bahkan hanya sekedar melongok ke belakang aku tak mau. Mungkin saja, ia terlindas oleh jalanan macet yang ramai dengan mobil atau motor yang tak sabaran.

Sesampainya di lokasi, jalanan sudah mulai tak menampakan wajahmu yang hilang. Garis kuning polisi saat mengevakuasimu sudah tidak ada lagi. Sudah hampir satu minggu, belum ada kepastian terkait siapa pelakunya, sama seperti mencari jarum dalam jerami. Aku ingat, kau pernah ngomel-omel kepadaku sewaktu aku jatuh dari motor, ketika lalai menabrak lubangan jalan yang tersiram air hujan. Kau selalu bawel menasihatiku untuk minum obat rutin agar aku lekas sembuh. Kali ini siapa yang akan mengomeliku lagi setelah kau sudah tiada?

Kau yang selalu jengkel, memintaku untuk lekas melamarmu. Aku sudah memperingatkannya, bahwa aku akan melamarmu bulan depan. Dan ketika aku datang kerumahmu, lamaranku dibantah dengan perjodohan layaknya siti nurbaya. Apakah kau merencanakan aku hancur didepan mukamu, layaknya gelas kaca yang jatuh tak kuasa menahan panasnya amarah. aku tak menyalahkan kau dan juga perjodohanmu yang melabrak perasaanku. Aku hanya merasa, menunda sebuah cinta, adalah sebuah kesempatan yang sia-sia.

***

Dan kini, Anjani merindukan masa kecilnya yang selalu merengek minta coklat ke Papa sehabis pulang dari kantor. Mama melarangku untuk berhenti makan coklat terlalu banyak. Takut giginya berlubang dan sakit. Kini aku dihadapkan wanita paruh baya yang masih terlihat muda, seketika melemah dan tak berdaya. Ia masih sama, terlihat cantik. Ia pandai merawat kecantikannya. Sementara Papa, ia masih terlihat gagah dan menawan. Walaupun wajahnya mulai berteman dengan keriput keriput yang mulai abadi.

Mereka adalah keluargaku satu-satunya, yang membesarkanku sampai umur 26 tahun. Merekalah juga yang merencanakan perjodohan layaknya siti nurbaya. Mereka takut kalau aku tak memiliki kebahagiaan tanpa suatu keputusan dari campur tangan mereka. Ya memang, anak satu-satunya haru di nomer satukan. Keputusan itu ternyata sudah direncakan jauh hari sebelum aku masih didalam kandungan. Katanya, “Kau akan bahagia dengan pilihan kami nak.”

Baca Juga:  Catatan Buku Elsa Tentang Keluarga Toxic

Mas Sunu yang selalu aku tuntut untuk segera melamarku, kini tertampar dengan kenyataan yang tidak mengenakan. Seperti sayur basi, mas Sunu melahap kenyatan demi kenyatan yang telah kita bangun kisah selama dua tahun lamanya. Katanya “Aku yang sia-sia atau memang waktu menyia-nyiakan hidupku.”

Anehnya ia berubah semenjak perjodohanku akan dilaksanakan minggu depan. Sedikti-sedikit ia mulai menerorku. Mulai dari menaruh bangkai ayam di depan rumah, menjebol kaca rumah, sampai mengirim kado berupa daging yang dilumuri darah di kantorku. Sebuah ancaman tidak akan melakukan hasil yang ia inginkan. Yang ada hanya membuang-buang energi dan waktu. Tapi aku sadar, mungkin ia masih kesal dengan tamparan yang menghancurkan hatinya.

Sampai suatu malam, ketika aku pulang dari kantor. Mobil yang aku kendarai tiba-tiba mogok. Jam tangan menunjukan pukul 10 malam bersama hujan di bulan September, ya aku lembur untuk menuntaskan pekerjaanku yang berat sebagai accounting. Ada apa ini, kenapa tiba-tiba mobilku mati? Aku segera mengecek mesin mobil, mungkin saja ada keselahan sehingga mengakibatkan mobilnya mogok. Ketika aku membuka pintu mobil dan menuju badan mobil depan, aku menemukan selembaran tulisan yang tertempel di plat nomer. Tulisan itu berbunyi “Selamat ulang tahun.” Tulisan itu sedikit basah dan luntur akibat hujan menyapunya.

Siapa yang mengirim tulisan seperti ini? sontak aku merasa gelisah. Atau jangan-jangan, ini sebuah teror yang berujung jebakan? Tiba-tiba saja cahaya keemasan menyambar wajahku dari kejauhan. Aku melihat mobil putih melaju cepat menjemputku. Mataku silau akan cahaya yang tajam menyerang penglihatanku. Ya, mobil itu aku ingat. Mobil itu adalah mobil yang pernah membawaku jalan-jalan ke Bali, berlibur menikmati senja kemerahan bersama kopi Kintamani. Klakson itu kembali menyerbuku seperti kendaraan yang tak sabaran. (*)

-Purwokerto, 2020

BAGIKAN

LEAVE A REPLY