KITA, FANA

  • Whatsapp
banner 468x60

BFOX – Tatkala bersua, kami bercerita. Tak ada ruang bagi duka mendahului bahagia di antara baris kata kami berdua. Tapi langit siang itu rasanya menggerayangi nyeri yang pedih dan membuat mendung pada perasaan saya. Dengan tiba-tiba ia meminta mengakhiri hubungan kami, selesai begitu saja, tanpa hendak berkompromi pada jeda.

“Jangan bercanda!”

“Tidak.”

“Aneh. Kenapa tiba-tiba?”

“Tidak ada. Bukankah wajar saja?”

“Lima tahun, dan kita berakhir begitu saja?!”

Dia hanya diam menatap saya dingin sambil melipatkan tangan di dadanya. Seolah saya adalah seorang bocah polos yang tak tahu apa-apa, tiba-tiba dikuyupi masalah, dan mesti dimarahi.

“Entah, hanya merasa semuanya harus berakhir.”

“Tidak biasanya.”

“Memang perlu dibiasakan,” katanya, dengan nada agak menekan. Dia membuang pandangannya ke sekeliling. Sejenak beberapa saat kami dihujani hening. Saya mengira, usulan pertemuan kami di taman itu bukanlah pilihan yang bagus. Pohon-pohon tumbuh sangat jarang, meski banyak bunga-bunga cantik menghiasi. Terik mentari siang itu agaknya turut memanaskan suasana kami.

“Kalau begitu saya minta maaf,” cetus saya, berusaha mendinginkan suasana meski saya tidak tahu apa dan di mana letak kesalahan saya kepadanya.

“Untuk apa?”

“Entah, hanya ingin meminta maaf.”

“Bodoh!” katanya.

“Memang perlu dibiasakan,” timpal saya meniru jawabannya berharap dia akan tertawa atau apa, tapi ternyata tak membuahkan respon apa-apa.

Dia hanya memasang gambar wajah datar dengan tatapan dingin seperti sebelumnya.

“Sebenarnya ada apa?” tanya saya memperjelas. Sejenak saya berkaca akan hubungan kami, dengan sangat yakin tak pernah ada sekecil pun benih kejelekan yang mungkin menumbuhkan buah kekecewaan di antara kami.

“Jangan salah paham, tak pernah ada masalah di antara kita,” katanya.

“Lalu?”

Dia menunduk sebentar, menarik nafas dengan berat, kemudia berusaha berbicara; “Begini, saya…” tapi ucapannya terpenggal. Raut wajahnya terlukis keras. Sejurus tampak seperti ada benang kusut bersarang di baliknya. Dia tampak tidak tenang, kesulitan mencerna pikirannya untuk dijadikan ucapan. Saya yakinkan kepadanya bahwa semua akan baik-baik saja.

“Tahu bagaimana perasaan saya ketika berhasil mendapatkanmu?”

“Bagaimana?”

“Luar biasa.”

“Saya tahu.”

“Saya berhasil jatuh cinta.”

“Tentu.”

“Ya.”

“Tahu bagaimana perasaan saya ketika berhasil ditaklukkan olehmu?” tolak saya balik menanyainya.

“Bagaimana?”

“Tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Saya cinta pertamamu—itu jika bukan ibumu yang menjadi cinta pertamamu.”

“Ya,” dia tersenyum.

“Anak durhaka,” seloroh saya, juga tersenyum.

Beberapa saat, suasana pembicaraan serasa jadi mencari. Saya agak senang.

“Semua akan baik-baik saja,” ucap saya.

“Ya, hanya…”

“Kenapa?”

“Mengenai hubungan ini.”

“Ya?”

“Entah mengapa ada ketakutan bagi saya untuk meneruskan hubungan ini ke depannya,” katanya.

“Bodoh! Lalu menurutmu bagaimana caramu bisa bertahan sampai lima tahun ini tanpa ada ketakutan yang mengganggumu?”

Dia sejenak terdiam. Angin menyisir lembut kami berdua, menari-narikan daun pepohonan dan bunga-bunga yang ada di taman.

“Itu hanya saat ini. Tidak ada ketakutan esok hari. Percaya padaku,” tegas saya meyakinkannya.

Dia tampak tidak percaya diri.

“Dengar. Jangan merasa menanggung cinta seorang diri. Ikatan ini adalah tanggung jawab kita bersama, kita berdua. Mengerti?”

Dia mengangguk, tapi ragu.

“Tak apa. Kita tidak sedang berdusta, atau pun memancing angkara murka, tidak. Justru sedang belajar menjadi manusia.”

Dia terdiam.

“Kita fana. Tuhan pun benci kita tak berarti apa-apa, bukan?”

Dia masih hanya terdiam.

“Apa kamu takut menjadi manusia?”

Dia pergi.***

Juni, 2021

Afthon Ilman Huda. Lahir di Mataram. Bermukim di Lombok Barat, NTB. Pernah menempuh Pendidikan Sarjana di Jurusan Sosiologi, Universitas Mataram. Kini tengah menekuni sastra. Karyanya masuk dalam Antologi Puisi Menenun Rinai Hujan (2019)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *