Zzzzz …!

DE EKA PUTRAKHA.

Oleh: DE EKA PUTRAKHA

Matanya tampak bengkak melawan rasa kantuk ketika dibangunkan untuk salat tahajud dan melanjutkan tilawah menjelang azan subuh. Begitulah kondisi di dalam pesantren. Lingkungan pemondokan yang baru dirasakan Zul. Entah mengapa ayahnya begitu ngotot untuk memasukannya ke pesantren. Sementara ibunya juga ikutan setuju dengan berbagai alasan takut dengan pergaulan di luar sana yang kian mengkhawatirkan itu.

Baginya kebiasaan tidur sudah sejak lama dialaminya. Pulang sekolah biasanya dia mencari tempat tidur untuk menghilangkan letih. Berjam-jam bisa dihabiskan hanya untuk tidur. Tidak seperti orang lain kebanyakan yang jika tidur berlebihan akan terasa sedikit pusing dan bertambah letih. Tapi bagi Zul tidak demikian.

Namanya Zahri Zein Zairul Zulkifli Zamzami. Terdengar sangat panjang dan lebih menekankan huruf “Z” yang berjumlah lima. Dirinya tidak mengerti mengapa diberi nama seperti itu. Mungkin juga sebagai doa agar segala apapun berakhir dengan baik. Tapi mengapa huruf Z? Atau karena itu dirinya jadi suka tidur? Lagi-lagi entahlah, begitu pikirnya jika ada yang mempersoalkan namanya.

Dia tidak mau lagi dicap sebagai “Si Tukang Tidur” seperti candaan teman-temannya dulu. Sekarang di lingkungan pesantren semuanya akan diatur dan terjadwal. Termasuk urusan tidur.

“Apakah hidup hanya untuk tidur? Coba bayangkan berapa jam waktu yang dihabiskan untuk tidur, tidur dan tidur. Bukankan Allah memberikan rezeki-Nya untuk yang mau bangun dan berusaha….”

Koar ustaz Akmal dalam kultum subuhnya. Zul tersentak, seakan isi kultum itu hanya ditujukan untukknya dari sekian santri baru.

“Tapi Allah juga mengharuskan ummat-Nya untuk beristirahat sebagai rahmat dan bagian dari ibadah.” Bisik hatinya sambil memperhatikan gerakan tangan sang ustaz memberi ceramah. Dirinya hanya mampu membantah argumen itu dalam hati.

“Nah, kamu. Siapa namanya? Masih ngantuk?”

Baca Juga:  Kumpulan Puisi-puisi Oleh: DE EKA PUTRAKHA

Deg! Tiba-tiba ustaz Akmal menyadari lamunannya. Semua mata mengarah padanya. Rasa kantuk yang susah dibendung seakan hilang dalam sekejap. Berganti rasa was-was jika seandainya sang ustaz memanggilnya untuk ke depan.

“Ayo silakan maju ke depan. Perkenalkan dirimu…”

Benar saja dirinya disuruh maju ke depan dan dengan jelas disaksikan oleh semua santri. Lingkungan pesantren memang hal yang baru baginya termasuk mengenali teman satu sama lain.

“Nama yang bagus. Hm… zet, zet, zet, zet, zet.”

Gumam ustaz Akmal sejurus kemudian. Ada sedikit hal yang Zul pikirkan sebab meyakini sang ustad menyadari ada lima huruf “Z” itu. Jangan sampai dikaitkan seperti orang tidur lagi. Uh, mengapa lagi-lagi ada saja yang memperkarakan masalah nama? Gerutunya dalam hati.

***

Banyaknya jadwal kegiatan pesantren mengharuskan Zul untuk beradaptasi. Kebiasaan yang dulu jarang dilakukan sekarang harus dipatuhi segala aturan itu. Baginya tidak mempermasalahkan apapun aturan yang diterapkan hanya saja melawan rasa kantuk yang seringkali memberatkan matanya. Sudah bermacam cara dilakukan; mulai mencuci muka berkali-kali, mencubit lengannya sendiri agar rasa sakit dapat dirasakannya selalu agar tidak mengantuk. Namun usaha tersebut tidak sepenuhnya berhasil.

Satu hal yang paling dibencinya dari dulu jika ada yang menertawakannya “Si Tukang Tidur” apalagi dikaitkan dengan namanya. Dia bertekad agar apa saja yang ditakutinya tidak akan terjadi di lingkungan pesantren yang akan dijalaninya untuk beberapa tahun ke depan.

Terkadang dirinya ingin kembali ke rumah. Bersekolah di sekolah umum seperti biasa. Sebab di pesantren malah tidak bersahabat dengan kebiasaan tidurnya. Namun, dirinya menyadari tidak ada alasan yang kuat untuknya keluar dari pesantren. Akan terdengar janggal jika alasannya hanyalah masalah tidur. Lagipula komunikasi di pesantren juga dibatasi. Menelpon ke rumah diizinkan seminggu atau dua minggu sekali, takut jika akan menganggu kegiatan. Kalau berkirim surat? Ah, sepertinya tidak zamannya lagi. Apapun itu ayahnya pasti tidak akan mengizinkannya. Lagipula pesantren baik untuk memperbaiki kebiasaan-kebiasaan buruk. Alasan klise itu pasti akan didapatinya lagi.

Baca Juga:  Penghujung Pengharapan

Sekarang yang terpenting dirinya bisa menjalani kehidupan barunya sebagai santri. Dia bertekad agar julukan itu tidak melekat pada dirinya lagi. Dirinya harus jadi Zul tanpa embel-embel Si Tukang Tidur.

***

Bulan pertama menjalani kehidupan di pesantren sungguh berat. Seberat kelopak matanya menahan kantuk apabila dibangunkan waktu subuh.

“Bisa karena terbiasa!”

Begitu kalimat yang sering diucapkan Ustaz Akmal dalam setiap kultumnya. Mungkin saja beliau memang sengaja mengulang-ulangnya karena ada banyak santri baru seperti dirinya yang belum terbiasa. Atau boleh jadi beliau sudah menandai Zul setiap subuh, hanya saja tidak menegurnya secara langsung melainkan dengan sindiran-sindiran halus lewat kultum yang disampaikannya itu. Dirinya mulai sedikit berdamai dengan keadaan. Dalam hati tekad untuk berubah itu pasti ada. Walaupun berubah dalam hal sepele; tidak akan sering mengantuk lagi.

Sudah berbulan-bulan dilalui kegiatan di pesantren artinya selama itu pula dirinya melawan rasa kantuk. Dia memahami rasa kantuk hanyalah sebuah kemalasan yang dituruti oleh hati. kemalasan yang dibisikkan setan padanya. Setan-setan dengan leluasa bergelantungan pada kelopak matanya sehingga berat melawan kantuk. Begitu pesan salah seorang ustaz yang lain dalam sebuah mata pelajaran. Seingatnya seperti itu.

Setelah ujian semester nanti dirinya akan pulang ke rumah untuk libur. Ingin dia perlihatkan pada kedua orang tuanya bahwa Zul yang sekarang bukanlah Zul yang tukang tidur seperti dulu. Kehidupan di pesantren begitu cepat mengubah kebiasaannya itu.

***

Liburan kali ini sedikit membuatnya lega. Meskipun kebiasaan dari pesantren terus mengubahnya jadi lebih baik, waktu dua minggu begitu terasa sebentar jika dibandingkan dengan kegiatan sebagai santri yang begitu banyaknya. Sekarang waktunya untuk menyegarkan pikiran. Meluangkan waktu untuk bersantai melupakan sejenak rutinitas pesantren yang baginya masih terasa sedikit membosankan. Hingga akhirnya membuat Zul tertidur pulas.

Baca Juga:  Kumpulan Puisi-puisi Oleh: DE EKA PUTRAKHA

Begitu dari hari ke hari. Dirinya seakan cepat terbawa suasana. Sehingga libur seakan adalah waktu tidur terbaiknya sebelum kembali lagi pada kegiatan di pesantren.

Memang benar dua minggu terasa begitu singkat. Gumamnya sambil menguap seraya melangkahkan kakinya menuju gerbang pesantren. Dalam pikirannya terbayang berbagai kegiatan rutin itu lagi. Apalagi besok sebelum subuh akan bangun seperti biasa kembali.

“Baru setahun di pesantren memang begini. Nanti juga akan terbiasa.” Bujuk Ayah meninggalkannya pergi.

***

Subuh terasa sunyi. Tidak ada kehebohan seperti biasanya. Apa para ustaz tidak lagi membangunkan atau semua santri masih tertidur? Pikir Zul terbangun dari tidurnya.

Tiba-tiba dia dikejutkan karena menyadari sendirian di ruang tidur. Samar-samar didengarnya suara para santri tengah tilawah dari arah masjid. Dengan terburu-buru dia bersiap untuk segera cepat menyusul.

“Mengapa tidak ada yang membangunkan!” gerutunya tidak henti. Apalagi nanti pasti ada yang akan menertawakannya dan istilah “Si Tukang Tidur” akan kembali disandangnya. Gerutunya lagi sambil melangkah setengah berlari.

 

DE EKA PUTRAKHA. Profilnya dapat dibaca dalam buku “Ensiklopedi Penulis Indonesia jilid 6” FAM Indonesia. Tulisannya dimuat lebih dari 100 judul buku antologi. Buku puisi tunggalnya antara lain; Hikayat Sendiri (2018) dan Perayaan Kata-Kata (2019). Baru-baru ini terpilih sebagai Pemenang 10 Resensi Terbaik “Resensi Buku Peringkat ASEAN 2020” anjuran Persatuan Penyair Malaysia. Dapat dihubungi via Facebook: De Eka Putrakha, instagram: @deekaputrakha,

BAGIKAN

LEAVE A REPLY