Varian Baru Covid-19 Itu Bernama Omicron

  • Whatsapp
Ilustrasi Covid-19. (Foto Cottonbro/Pexels)

Pandemi Covid-19 tak kunjung usai sejak ditemukan pada akhir 2019 lalu. Berbagai mutasi baru ditemukan hanya dalam selang dua tahun terakhir ini.

Kini, di penghujung tahun 2021, dunia kembali digegerkan dengan varian baru virus corona bernama Omicron. Hebohnya varian ini dalam beberapa hari terakhir, bahkan membuat puluhan negara kembali perketat aturan pembatasan, terutama kedatangan asing dari berbagai pintu masuk yang tersedia.

Bacaan Lainnya

Varian Omicron yang terdeteksi pertama kali di Afrika itu, diduga lebih menular dibandingkan varian Covid-19 lainnya. Selain itu, kekhawatiran akan efisiensi vaksin Covid-19 membasmi varian Omicron masih dipertanyakan.

Dikutip dari CNNIndonesia, berikut fakta yang diketahui para ahli soal Omicron.

Asal Omicron

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan varian Omicron pertama kali teridentifikasi di Afrika Selatan pada 9 November lalu. WHO memasukan Omicron dalam daftar Variant of Concern (VOC).

Variant of Concern merupakan varian yang menjadi perhatian karena memiliki tingkat penularan tinggi, virulensi yang tinggi, dan menurunkan efektivitas diagnosis, terapi serta vaksin yang ada.

Omicron bergabung dengan beberapa varian lain yang lebih dulu masuk kategori Varian of Concern WHO yakni varian Alpha, Beta, Gamma, dan Delta. Saat ini, kasus Covid-19 varian Omicron di Afrika Selatan meningkat di hampir setiap provinsi di negara itu.

Kini, varian dengan nomor ilmiah B.1.1.529 itu telah menyebar ke setidaknya delapan negara mulai dari Inggris, Jerman, Belgia, hingga Hong Kong. Pusat pencegahan dan Pengadilan Penyakit Eropa mengatakan varian Omicron berpotensi lolos kekebalan vaksin dan lebih cepat menular dibandingkan varian Delta.

“Ada risiko tinggi hingga sangat tinggi yang akan menyebar di Eropa,” kata lembaga tersebut seperti dikutip CNN.

Para ahli pun telah merekomendasikan agar WHO menetapkan varian tersebut sebagai perhatian berdasarkan sejumlah besar mutasi varian, kemungkinan peningkatan risiko infeksi ulang, dan bukti lainnya.

Tingkat keganasan

Hingga kini, para ilmuwan masih terus melakukan penelitian dan belum bisa menjelaskan dengan detail apakah varian ini lebih menular dan mampu mengurangi efikasi vaksin Covid-19 yang sudah ada.

Salah satu yang memicu kekhawatiran para ahli adalah varian Omicron memiliki jumlah mutasi yang sangat tinggi, melebihi 30 sel kunci protein spike. Jumlah mutasi itu tidak biasa jika dibandingkan dengan varian Covid-19 lainnya selama ini.

Para ilmuwan khawatir tingginya jumlah mutasi Omicron dapat membuat varian Covid-19 ini lebih mudah menular dan mengurangi kekebalan imun.

Para ilmuwan berulang kali menegaskan bahwa mutasi dan varian virus corona akan terus bermunculan. Varian Omicron menjadi salah satu yang menurut para ahli perlu diwaspadai dunia.

“Kita telah melihat berbagai varian Covid-19 bermunculan setiap lima sampai enam bulan, dan sebagian besar dari mereka tidak banyak jumlahnya. Tapi ini (Omicron) berbeda. Perilakunya berbeda, seperti jauh lebih menular daripada varian Delta,” kata Dekan Sekolah Kesehatan Publik Brown University, Dr Ashish Jha, seperti dikutip CNN.

Manufaktur vaksin seperti Moderna dan Pfizer/BioNTech pun segera melakukan penelitian terhadap dampak Omicron terhadap efikasi vaksin buatan mereka.

Sejumlah ahli memaparkan jika vaksin Covid-19 yang sudah ada tidak cukup efektif melawan Omicron, satu-satunya solusi yang memungkinkan sementara adalah memberikan dosis vaksin booster kepada masyarakat.

(red/*)

Pos terkait