Mumi Cantik Berusia Ribuan Tahun

  • Whatsapp

BFOX, DUNIA – Xin Zhui adalah putri bangsawan China kuno yang kaya raya dari Dinasti Han (206 SM – 220 M), dan menikah dengan seorang putra bangsawan juga, bernama Li Cheng.

Xin juga dikenal juga sebagai Lady Dai karena Li Cheng adalah seorang penguasa di wilayah Dai yang sekarang bernama Changsha, selama Dinasti Han. Xin Zhui, anggota penting dari klan kuat “Xin”, yang melahirkan seorang putra pewaris, tetapi catatan sejarahnya tidak diketahui.

Bangsawan wanita dari Dinasti Han ini memiliki postur tubuh yang tingginya 158 cm, yang hidupnya penuh daya dengan memiliki fasilitas terbaik pada masanya.

Mengutip Lady Dai 101, wanita aristokrat ini bak bintang di wilayah Dai, yang menyukai jamuan makan malam dengan diiringi musik orkestra, wewangian, dan pelayanan istimewa pada umumnya untuk kelas atas.

Ia memiliki riwayat hidup yang sangat memanjakan lidah dengan makanan-makanan mewah di saat itu, seperti daging angsa, burung pegar, serta anjing.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Makanan-makanannya mewah, tetapi tidak sehat. Ia pun termasuk manusia yang pemalas, tidak banyak bergerak. Ia memiliki riwayat duduk dalam jangka waktu yang lama, yang diyakini dilakukannya sambil menikmati pertunjukkan musik yang ia sukai.

Perempuan berdaya dengan limpahan kekayaan ini mengalami komplikasi kesehatan, yaitu kegemukan, tekanan darah tinggi, arteri koroner hampir seluruhnya tertutup lemak, kolesterol tinggi, diabetes, batu empedu, hingga penyakit hati.

Penyakit-penyakit itu sepertinya diobati dengan herbal, tetapi tidak bisa menyembuhkan dampak buruk dari pola hidup yang tidak sehat bangsawan wanita Dinasti Han itu.

Lady Dai meninggal di usia sekitar 50-an tahun, karena serangan jantung mendadak. Ia disebutkan sebagai manusia pertama yang didiagnosisi dengan penyakit jantung di zaman kuno.

Pada 1971, di perbukitan Mawangdui, dekat kota Changsha di China ditemukan sebuah makam kuno berusia 2.200 milik Li Cheng dan Xin Zhui, bersama dengan sejumlah patung emas dan perak, perhiasan, serta pakaian sutra halus.

Yang paling menarik dari temuan itu adalah mayat Xin Zhui, ditemukan dalam kondisi masih “cantik” terawat, terpelihara dengan baik. Kulitnya lembut dan kenyal, rambut, dan organ tubuhnya utuh. Kulit, persendian, dan ototnya masih lentur. Bahkan ada darah di pembuluh darahnya.

Namun, wajah aristokrat China kuno itu dalam kondisi sangat bengkak dan berubah aneh. Kondisi tubuh Xin Zhui berbeda jauh dari mumi Mesir yang diawetkan, yang tubuhnya dikeringkan dari semua cairan dan mengeringkan jaringan mereka dengan garam, sebelum dibungkus kain dan dikubur.

Mengutip History Daily, Xin Zhui kemungkinan diawetkan dengan direndam dalam beberapa jenis cairan asam yang menghambat pertumbuhan bakteri dan mencegah dekomposisi. Jejak merkuri juga ditemukan di kulitnya.

Tubuhnya kemudian dibungkus rapat dalam 22 lapis permadani sutra, dan ditempatkan dalam rangkaian 4 peti mati yang indah dan berlapis getah pohon pernis untuk membuat peti kayu tahan lama.

Peti mati itu dilindungi dalam sebuah makam yang luar biasa tingginya hampir 3m, panjang dan lebar 6m. Makam itu dikubur 12m di bawah tanah. Di sekeliling ruang pemakaman diisi dengan 5 ton arang dan peti mati dibungkus dengan tanah liat putih setebal satu meter yang dikenal sebagai kaolin.

Para arkeolog percaya bahwa cara tersebut menahan air dan udara masuk, yang akan menyebabkan pembusukan. Ruang pemakaman bangsawan wanita Dinasti Han itu kemudian ditimbun tanah setinggi 15m.

Sementara itu, manuskrip China kuno “Long Lost Elixir” yang merincikan tahap pembalseman jasad Lady Dai untuk tetap “cantik” terawat kulit dan organnya. Setelah dimandikan dan dibungkus kain sutra, di dalam peti mati mayat Lady Dai dituangkan cairan ramuan khusus.

Mumi Lady Dai ketika ditemukan mengambang di atas 76 liter cairan seperti rum berwarna coklat kemerahan. Banyak ilmuwan menganggap cairan itu sebagai “obat mujarab yang telah lama hilang untuk mengawetkan daging manusia”.

Setelah dilakukan analisis kimia lebih lanjut, cairan peti mati itu ditemukan kandungan asam dengan jejak cinnabar, merkuri sulfat atau obat China kuno, yang secara luas dikenal sebagai ramuan kehidupan abadi yang dikonsumsi oleh Qin Shi Huang. Qin Shi Huang adalah kaisar pertama dari Dinasti Qin (221 – 206 SM) yang mempersatukan daratan China, dengan menaklukan 6 negara lainnya saat itu.

Secara keseluruhan para peneliti mumi Lady Dai menghabiskan waktu selama 4 dekade untuk menganalisis dan menafsirkan mayat utuh Xin Zhui itu. Melalui analisis forensik dan sinar-x, ahli jantung merangkai momen-momen pernapasan terakhir dari aristokrat wanita China kuno yang hidup makmur hingga tutup usia 50-an tahun itu.

Mengutip All Thats Interesting, beberapa menit sebelum serangan jantung dan meninggal, Lady Dai melahap melon dengan tergesa-gesa yang ditemukan 138 biji melon yang tidak tercerna di perut dan ususnya. Biji-bijian seperti buah melon biasanya membutuhkan 1 jam untuk dicerna, dapat diasumsikan bahwa melon adalah makanan terakhirnya. (sumber: kompas.com)

Pos terkait