Silsilah Agung, Kinalang Damopolii “Sang Penakluk’’

Wahyu Pratama Andu

Oleh:
Wahyu Pratama Andu

 

POLITIK memiliki kaitan erat dengan kekuasaan. Pun kekuasaan, sangat erat dengan peradaban, Ketokohan dan para penakluk, mereka lah yang menghiasi lembaran sejarah masa lampau dunia, Nusantara, tak terkecuali daerah kita Bolaang Mongondow.

Herodutus mengatakan bahwa sejarah adalah kajian yang menceritakan jatuh bangun masyarakat, tokoh bangsa dan peradaban. Perkembangan sejarah tidaklah berlangsung maju, namun naik turun seperti sebuah lingkaran dan tinggi rendahnya ditentukan oleh manusia.

Bicara tentang raja-raja Bolaang Mongondow, kita mendengar ‘ouman’ atau tradisi lisan turun temurun yang sering diceritakan oleh orang tua kita menandakan negeri Bolaang Mongondow adalah Negeri Oral (Oral Tradisional) Bukan berarti tidak ada catatan mengenai Sejarah Kebudayaan Bolaang Mongondow, Justru kita bisa menemukanya dalam dokumen dokumen kolonial khususnya Belanda, Spanyol dan Portugis.

Misalnya dalam Arsip yang berjudul “Nederlandsche Zendling Genootschap” kumpulan tulisan kontribusi terhadap pengetahuan tetang zending, bahasa, wilayah dan kultur di Hindia Belanda, yang terbit di Roterdam tahun 1867 oleh M.Wyt dan Zonen. tercatat dalam arsip ini Perjalanan Pendeta VP. Wilken dan Schwarz selama berada di Bolaang Mongondow.

Silsilah Agung
Pada arsip di atas, Wilken menulis ‘silsilah agung’ raja-raja Bolaang Mongondow. Dimulai dari Punu’ Mokodoludut sebagai pemimpin pertama atau pemimpin tertinggi yang dikukuhkan atau diangkat oleh para Bogani di Tudu Bumbungon (sekarang masuk dalam wilayah Dumoga Kabupaten Bolaang Mongondow) dari pernikahanya dengan Bojia, Mokodoludut dikaruniai lima orang anak yakni Jajubangkai, Ginupid, Golonggom, Pondaad dan Ginsapondo.

Ginsapondo merupakan seorang putri yang tidak memiliki kecantikan fisik, berbulu seperti babon. Ia hanya membangkitkan tawa semua orang yang melihatnya. Karena itu ia memutuskan untuk meninggalkan Dumoga, dan melarikan diri dengan cara yang sangat misterius menuju Kotabunan hingga ke Belang di wilayah Minahasa kini, di mana dia menyebut dirinya Ginsa Balun, dan menjadi nenek moyang dari beberapa kepala suku.

Baca Juga:  Misi Kolonial, Dunnebire, dan Islam di Bolaang Mongondow Abad-20

Ginupid mencari istri di Mojajad (tempat antara Soli Mandungan dan Langagon), dan menikah dengan Boki Bolang. Golonggom menikah di Gorontalo dengan Vrouw Leuote yang cukup besar.

Putra tertua Jajobangkai menetap di Buntalo setelah menikah dengan putri Silagondo, dikaruniai dua orang putra, Kinalang Dammopolii dan Mokoapa Kinalang atau Damopolii menunjukkan keberanian yang besar, dan mengobarkan perang yang menyenangkan melawan berbagai suku yang mendiami dataran Mongondow. Para Djogoegoes di Bolaang Mongondow Damopolii nenek moyang mereka.

Kinalang menikah dengan Limbatondo, seorang putri di Ginalangangan, dan memiliki dua orang putra, Butiti dan Ponamon. Butiti mendapat empat putra yakni Makalo, Takadumakul, Doenoe dan Makalunsenge dari Tendeduwajo di Sinoemolantaan Makalalo pergi ke Minahasa dan menikah di Mandolan dekat dengan Tateli, dengan Ganti Ganting, dan beranak Mokodompit, kemudian Mokodompit ia menikah dengan Dogankilat dari Lembeh, dan mendapatkan Mokoagow darinya.

Mokoagow mengambil Mongiadi dari Lembeh sebagai istri, seorang gewori Tadohe. Dari pernikahan Tadohe dengan Kiaba dari Babo, dekat Boentalo, lahirlah Loloda Mokoagow, disebut juga Binangkang.

Kinalang Menyatukan Lima Suku Awal ‘Bolaang Mongondow’
Wilken menulis ada Lima Suku yang membentuk Populasi Bolaang Mongondow. Pertama Intau Buloean. Tau Buloean dulu tinggal di dekat Gunung Buloean, di tepian Nonapan. Setelah suku Binangunan ditaklukkan oleh Kinalang, berikutnya suku ini tunduk padanya dan dipimpin oleh Obodia menetap di sekitar Passi.

Baca Juga:  Loloda Mokoagow, Banton Melawan Pata Besi, dan Sultan Ternate yang ‘Segan’

Kedua, Intau Binangunan yang tinggal di kaki gunung Ambang. Batu-batu besar yang ditemukan di dekat gunung ini dulunya adalah tempat tinggal mereka yang tinggal menjadi puing-puing peradaban. Kepala suku ini adalah Inongkoe. Menurut legenda ia adalah laki-laki yang lahir dari rotan daina (rotan merah).

Memiliki silsilahnya yang luar biasa, Inongkoe tidak mau tunduk pada Kinalang Damopolii hingga melakukan perlawanan padanya. Pecahlah perperangan yang dahsyat di tanah Bogani hingga Kinalang mengalahkannya. Dalam pertempuran ini Inongkou gugur karena dihukum atas keberaniannya yang berani melawan salah satu silsilah orang yang jatuh dari kayangan Budolangi. Setelah pertempuran ini, suku ini kemudian menetap di rata Mongondow.

Suku ketiga Intau Polian. Suku ini mendiami Sungai Mongondow. Mereka mengikuti jalannya pertempuran antara suku Binangunan melawan Kinalang Damopolii. Mereka tidak ingin melibatkan diri dalam pertempuran yang sia-sia. Akhirnya, setelah Intau Binangunan jatuh, secara sukarela Intau Polian mengakui kekuasaan Kinalang dan kini bermukim di Tabang dan sekitarnya.

Suku keempat Intau Lombagin. Mereka termasuk di antara suku Aborigin Bolaang. Sejak zaman dulu mereka bermukim di gunung Lolak dan Tenga hingga saat ini dan masih menggunakan bahasa kuno.

Suku kelima, Intau Dumoga. Awalnya mereka sama seperti empat suku lainya. Namun dengan kecerdikan dan kegagahan para pemimpinnya, terutama dari Kinalang Damopolii, lambat laun suku ini memperoleh pengaruh dan otoritas yang lebih besar atas suku-suku lainnya.

Akhirnya mereka semua mengakui supremasi para kepala suku Dumoga. Pemerintah sekarang dipegang oleh suku ini, mereka kemudian disebut sebagai keluarga kerajaan dan keluarga Bangsawan. Kinalang Damopoliilah yang berhasil merangkul Lima suku itu hingga menjadi kesatuan Bolaang Mongondow.

Baca Juga:  Putri Silagondo, Maindoka dan Negeri Buntalo

Kinalang Damopolii Raja Manado
Hasil riset Murdiono Mokoginta yang berjudul “Diogo de Magellan, Punu’ Makalalo dan Mokodompit Abad XVI yang terbit di BMR Fox edisi 21 November 2020 menerangkan bahwa Diogo de Magellan adalah seorang pastur Katolik berkebangsaan Portugis yang datang ke Manado pada Mei 1563. Kedatangannya di sana di sambut oleh Raja Manado dan rakyatnya dengan sukacita sebagaimana dalam laporan perjalannannya yang ditulis oleh Visser dalam karyanya.

“Na vier dagen varens kwam men behouden te Manado aan, nog in de maand Mei 1563. Met veel vreugde werd daar de komst van den Missionaris begroet. De radja en het volk van Manado toonden zich zeer begeerig om den godsdienst der Portugeezen aan te nemen en zij drongen bij den Missionaris er op aan.” (hlm. 180)

Terjemahannya; “Setelah berlayar selama 4 hari mereka tiba di Manado, masih pada bulan Mei 1563 Kedatangan misionari disana diterima dengan penuh sukacita. Raja dan rakyat Manado sangat tertarik untuk menerima agama Portugis dan mereka mendorong misionaris untuk menghabiskan sebagian waktu di kampung mereka.”

Pernyataan Magellan di atas memuat sebuah fakta bahwa di tahun 1563, wilayah Manado, telah ada Raja yang secara ‘de facto’ menguasainya. Sam Narande dalam ‘Vadu La Paskah’ menyatakan bahwa 1500 orang telah di baptis di Manado bersama Rajanya. Tentang siapa Raja Manado ini, Narande mengarah kepada Punu’ Kinalang Damopolii. (*)

*Penulis adalah Penggiat Sejarah di Pusat Studi Sejarah Bolaang Monggondow Raya (PS2BMR)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY