Tawaran Investasi Bodong Kian Marak, OJK Sulut: Harus Legal dan Logis

Ilustrasi

BFOX, SULUT – Tawaran investasi dengan imbal hasil yang besar dalam waktu singkat, dan tanpa kerja keras, seringkali membuat orang gelap mata.

Tidak main-main, kerugian dari manisnya tawaran investasi bodong bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Otoritas Jasa Keuangan mencatat, terdapat 792 entitas investasi ilegal, 2.588 fintech ilegal, dan 93 entitas gadai ilegal hingga 3 Juli 2020.

Baru-baru ini, Satgas Waspada Investasi (SWI) akan menelisik entitas investasi aplikasi Alimama, yang memberikan iming-iming komisi kepada pengguna jika melakukan transaksi ‘belanja’ pada market place.

“Kami sudah mendapat berbagi informasi dan kami sudah melakukan analisis. Rencananya akan kami panggil minggu depan,” kata Ketua SWI Tongam L Tobing, dikutip dari Kompas.com, Selasa (22/9).

Baca Juga:  Cegah Corona, Ini Imbauan OJK untuk Lembaga Jasa Keuangan

Tongam menjelaskan, konsep investasi yang dilakukan oleh Alimama ini sangat mirip dengan investasi MeMiles yang telah ditutup karena terbukti tidak memiliki izin usaha dan legalitas.

Ia mengimbau agar masyarakat bisa lebih jeli lagi dalam menyikapi investasi-investasi yang muncul saat ini.

Masyarakat diharapkan bisa belajar dari kasus-kasus sebelumnya, yang berujung pada kerugian investor akibat investasi yang tidak memiliki legalitas.

“Kami mengimbau masyarakat agar belajar dari kasus MeMiles. Melihat dari pengalaman yang sudah ada, tidak mungkin hanya dengan ikut serta bisa mendapat imbal hasil tinggi,” tambah dia.

Baca Juga:  Tingkatkan Literasi Keuangan, OJK Gelar Media Gathering dengan Wartawan

Sementara itu, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) SulutGoMalut Slamet Wibowo mengatakan, pola tawaran investasi bodong hingga kini memang masih cukup menggiurkan.

Padahal modus bisnis demikian memiliki resiko yang sangat besar.

“Masyarakat ingin dapat keuntungan secara instan dan mudah percaya dengan testimoni orang yang sudah ikut,” kata Slamet saat dihubungi, di Manado.

Slamet kembali mengingatkan agar masyarakat selalu memperhatikan 2L, yakni Legal dan Logis setiap mau berinvestasi.

Baca Juga:  Satgas Waspada Investasi Selidiki Legalitas Aplikasi Goins

Legal kata Slamet, berarti perusahaan mempunyai ijin dari pihak berwenang sesuai bidang usaha dan produknya.

”Tidak cukup hanya ijin badan usaha seperti SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan),” ujarnya.

Sedangkan Logis lanjutnya, keuntungan yang ditawarkan masih pada batas wajar jika disandingkan dengan produk investasi yang sudah umum, seperti bunga deposito bank.

“Detailnya harus identifikasi jenis penawaran atau produknya, apakah termasuk real investasi  seperti properti, kebun, emas, atau finansial investasi seperti saham dan reksadana. Juga cek pengelolaannya, pahami juga regulasi atau aturannya,” pungkasnya.(gfl)

VIAGandi Lambe
BAGIKAN

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY