‘Menelaah Sumber’, Tinjauan Kritis Sejarah Bolaang Mongondow

Murdiono Prasetio A. Mokoginta.

Oleh: Murdiono Prasetio A. Mokoginta

Meneliti dan menulis sejarah Bolaang Mongondow bukanlah pekerjaan mudah. Banyak tantangan yang dihadapi oleh para peneliti dan penggiat sejarah ketika mencoba merekonstruksi kepingan-kepingan masa lalu etnik ini.

Di antara kendala yang ditemui di lapangan adalah kurangnya catatan-catatan valid perspektif ‘Bolaang-Mongondowsentris’ yang memuat informasi mengenai eksistensi mereka dalam panggung sejarah peradaban masyarakat Nusantara.

Karena sulitnya menulis sejarah dengan menggunakan sumber internal, maka sumber eksternal kemudian menjadi alternatif menyusun sejarah Bolaang Mongondow oleh penggiat sejarah di daerah ini pada dekade akhir abad 20 an.

Hal ini menarik untuk dibedah tentang mengapa hal itu terjadi dan apa yang perlu kita lakukan di masa sekarang dan akan datang menghadapi tantangan ini.

Untuk itu dalam catatan ini saya akan mencoba mengulas apa yang dimaksud sumber sejarah, sumber sejarah internal, dan sumber sejarah eksternal sebagai bahan untuk merekonstruksi kerangka histroris Bolaang Mongondow masa kini.

Saya juga benar-benar harus memilih dan memilah kata yang muda dipahami oleh masyarakat luas saat mereka membaca tulisan ini.

Karena saya menyadari bukan sedang menyusun naskah akademik tentang teori-teori metodologi sejarah (ilmu sejarah), walaupun ke depan saya ingin melangkah ke sana.

Tulisan ini hanya untuk menambah wawasan bagi kita semua tentang arti penting sumber-sumber sejarah demi masa depan historiografi sejarah Bolaang Mongondow.

 

Sumber Sejarah

Satu hal yang membedakan manusia dengan mahluk lain di alam ini adalah akal budi. Akal yang menjadi ruh, perasa, pengerak bagi pikiran yang ada di dalam otak kita untuk membedakan yang salah dan benar, menganalisis,  menyimpulkan, dan berbuat sesuatu yang berguna bagi diri sendiri maupun orang lain.

Seringkali banyak yang menyamakan antara akal dan otak padahal keduanya berbeda. Sifat akal lebih ke abstrak sedangkan otak berwujud material.

Hewan memiliki otak tapi tidak berakal hingga tak bisa mewariskan peradaban. Adapun manusia, ia menggunakan akal untuk menggerakan pikiran dalam otaknya.

Akal juga lah yang menggerakan manusia melakukan aktifitas-aktifitas yang berguna dan produktif untuk menunjang kehidupan.

Dalam aktifitas-aktifitas ini manusia meninggalkan jejak perbuatan atau jejak masa lalu peradaban yang bagi sejarawan diistilahkan sebagai ‘sumber sejarah’.

Baca Juga:  Fakta, Sejarah, dan Sejarawan

Helius Sjamsuddin (2012) dalam bukunya Metodologi Sejarah umumnya mengklasifikasi sumber sejarah menjadi tiga bagian yaitu: pertama; peninggalan-peninggalan berupa surat, sastra, dokumen umum, bahasa, adat-istiadat, alat-alat dan artefak.

Kedua; catatan-catatan (records) berupa kronik, biografi, catatan harian/perjalanan, fonograf, tape recording, mata uang, patung, dan sebagainya.

Ketiga; sumber berupa gabungan keduanya (peninggalan dan catatan) contohnya seperti pidato yang diucapkan pada khalayak umum tapi isi di dalamnya dicatat di atas kertas, dokumentasi juga masuk dalam bagian ini karena memuat visual-audio (video) tetapi skripnya ditulis di atas kertas.

Selain ke tiga jenis sumber di atas, dalam ilmu sejarah kita juga mengenal istilah ‘sejarah lisan dan tradisi lisan’.

Sejarah lisan sederhananya adalah informasi masa lalu yang diperoleh dari pelaku sejarah yang langsung mengalami, terlibat, melihat, dan merasakan suatu peristiwa yang hendak dijadikan sebagai bahan sejarah.

Sedangkan ‘tradisi lisan’ adalah suatu informasi sejarah yang tinggal diceritakan secara turun-temurun misalnya hikayat tentang Bogani, putri Silagondo, dan cerita-cerita tradisional yang diceritakan turun-temurun pada tiap generasi di Bolaang Mongondow.

Sumber sejarah sangat penting bagi orang yang melakukan penelitian sejarah secara kritis dan metodologis.

Jika kita ingin menulis sejarah Bolaang Mongondow yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademis, maka seseorang peneliti atau penggiat sejarah harus mempelajari prinsip-prinsip ilmu sejarah.

Hal ini agar sejarah Bolaang Mongondow tidak terkesan seperti dongengan yang miskin sumber-sumber sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah (ilmu positif).

 

Sumber Sejarah Internal dan Eksternal

Mencari sumber masa lalu Bolaang Mongondow sangat sulit dan terbatas. Terlebih ketika kita mencari sumber-sumber sejarah yang ditinggalkan oleh nenek-moyang kita, aktifitas ini cukup membuat para penggiat dan peneliti sejarah frustasi.

Karena kendala inilah hingga kini rujukan yang digunakan dalam tulisan sejarah Bolaang Mongondow banyak menggunakan sumber-sumber dari orang-orang Eropa yang pernah datang ke sini.

Sumber-sumber dari orang luar inilah yang dimaksud sebagai ‘sumber sejarah eksternal’. Sumber-sumber yang berupa catatan penjelajahan yang ditulis oleh orang Belanda, Portugis, dan Spanyol yang pernah datang ke sini masuk dalam klasifikasi di atas.

Adapun sumber sejarah internal sebagaimana yang dimaksud adalah sumber masa lalu yang ditinggalkan oleh nenek moyang masyarakat Bolaang Mongondow.

Baca Juga:  Peran Sejarah dalam Masyarakat Multikultural

Dalam beberapa media lokal, diberitakan, cukup banyak benda-benda peninggalan nenek moyang yang ditemukan baru-baru ini seperti kuburan tebing di Toraut, guci antik di Upai, dan bende-benda bersejarah di Kotabunan yang ditemukan beberapa waktu lalu.

Sumber internal lain yang perlu diperhatikan oleh kita adalah sumber sejarah berupa ‘tradisi lisan’. Hikayat-hikayat, cerita tradisional tentang terbentuknya suatu desa, dan sebagainya, beruntung masih banyak yang diceritakan kepada generasi saat ini.

Kita hanya perlu menggunakan pendekatan filsafat dan metodologi sejarah untuk menginterpretasi semua itu agar bisa dijelaskan secara ilmiah hingga bisa dimasukan ke dalam kajian sejarah kritis.

Ada juga karya yang masih relevan dan menarik untuk dibedah karena bisa dimasukan dalam kategori sejarah eksternal dan internal sumber sejarah Bolaang Mongondow.

Sekitar 1980 an, ketika R. Mokoginta menerjemahkan karya Willem Dunnebier yang berjudul “Over De Vorsten Van Bolaang Mongondow” yang diterjemahkan ‘Mengenal Raja-Raja Bolaang Mongondow’, maka buku-buku sejarah yang ditulis oleh penggiat sejarah Bolaang Mongondow setelahnya banyak yang merujuk pada karya di atas.

Saya memasukan karya Dunnebier dalam dua kategori di atas karena secara eksternal penyusunnya adalah orang Eropa yang hanya bertugas di Bolaang Mongondow.

Namun secara internal, hikayat-hikayat dan cerita para Raja Bolaang Mongondow yang ia tulis, diambil dari sumber ‘tradisis lisan’ yang dalam kajian sejarah kontemporer mulai bisa diterima di kalangan sejarawan.

Di lain kesempatan saya mungkin akan mengulas peran tradisi lisan sebagai pondasi sejarah Bolaang Mongondow untuk mempertajam hal ini.

Karya-karya Dunnebier urgensinya memang masih bisa dimaklumi dan diterima di waktu yang terbatas. Namun semestinya bagi peneliti dan penggiat sejarah yang akan datang harus membedah kembali secara kritis.

Setelah berhasil menemukan muara dan hakikat sejarah yang masih tersembunyi dalam karya Dunnebier dan turunannya, baru lah kita menggunakan metodologi sejarah untuk menyususnnya.

Jika ini dimulai, maka kelak sejarah Bolaang Mongondow yang universal bisa direkonstruksi secara metodologis, terperiodesasi dengan sistematis dan kronologis, hingga bisa diterima di kalangan sejarawan akademik.

 

Penulis adalah pengajar dan peneliti sejarah Sosial BMR. Menulis buku; Permesta di Bolaang Mongondow Tahun 1956 – 1963.

Bagikan ke temanmu
BAGIKAN

LEAVE A REPLY