Angkutan Rakit Bambu, Cara Warga Mengais Rezeki di Balik Duka Banjir di Bolmong

  • Whatsapp
Jasa angkutan rakit bambu seberangi sungai, jadi alternatif warga pasca jembatan roboh akibat terjangan banjir Sabtu lalu. (Foto David Sumilat)

BEBERAPA orang tampak berdiri di atas dinding pembatas di seberang sungai, menunggu giliran untuk dijemput. Di sisi lain sungai, juga sudah menunggu antrian untuk menyeberang.

Ada yang hanya bermodalkan barang bawaan, membawa kerabat, bahkan ada yang sambil membopong sepeda motor.

Bacaan Lainnya

Siang itu, Senin (27/7/2020) cuaca tidak terlalu mendukung aktivitas warga. Mendung menyelimuti langit, beberapa saat gerimis, namun sesaat kemudian langit kembali terang, meski mentari malu menampakkan diri.

Dua rakit yang disusun dari beberapa bambu muda, dialasi papan, terlihat bergantian bergerak mengapung di sungai.

“Nda apa-apa ini?” sahut seorang warga yang menjadi penumpang di rakit itu.

“Nda apa-apa, aman!” balas seorang lelaki bertubuh kekar, yang menarik tali tambang besar yang diikatkan di rakit.

Tak hanya lelaki itu, beberapa orang lainnya juga tampak memegangi rakit dari sudut lainnya, menjaga agar rakit bambu desain seadanya itu, tetap berjalan di jalurnya, membelah arus sungai yang masih tampak bersahabat.

Dua bocah tengah tersenyum manis di atas rakit bambu. Lupa akan bencana yang baru saja mereka alami. (Foto David Sumilat)

Pemandangan inilah yang dilihat di bantaran sungai pembatas antara Desa Kosio dan Kosio Barat. Lokasinya tak jauh dari jembatan penghubung yang roboh akibat terjangan banjir, Sabtu (25/7/2020) lalu.

Kala itu, pewarta BFOX.CO.ID hanya berniat meliput aktivitas yang dilakukan pemerintah daerah pasca bencana banjir, khususnya di Desa Kosio, Kecamatan Dumoga Tengah, yang disebut dari data BPBD Bolmong, merupakan desa yang memiliki dampak terbesar.

Jembatan Kosio satu di antaranya yang alami kerusakan berat. Jembatan penghubung perekonomian warga sekitar itu roboh. Akibatnya, akses jalan satu-satunya di desa-desa yang bersebarangan, tidak ada lagi.

Di kejauhan, terlihat keramaian manusia berkerumun di sungai yang sudah surut itu, tak jauh dari bibir jembatan yang terbelah.

Merasa tergelitik, tim BMR FOX pun penasaran dengan aktivitas yang mengundang keramaian orang itu. Padahal saat ini, protokol Covid-19 masih diberlakukan.

Roni Ering, seorang warga Desa Kosio menceritakan, ini merupakan spontanitas dari warga di kedua desa bertetangga akibat jembatan yang roboh. Tujuannya adalah untuk membantu masyarakat yang ingin menyeberang, setelah putusnya jembatan penyambung.

“Diusulkan oleh warga, dibuat rakit untuk fasilitas penyeberangan sehari setelah banjir terjadi,” kata lelaki yang mengaku sebagai Ketua Pemuda di Desa Kosio Barat ini.

Meski kegiatan ini merupakan swadaya masyarakat, dikatakannya, penumpang yang ingin menggunakan jasa rakit bambu untuk menyeberang, dikenakan biaya jasa penyeberangan.

Maklum saja, rakit tersebut masih menggunakan sepenuhnya tenaga manusia.

“Bervariasi jasanya. Jika penyeberangan hanya orang saja, dikenakan biaya 5 ribu rupiah. Namun jika yang diseberangi adalah sepeda motor, tarifnya 25 ribu,” tuturnya.

Namun, tarif itu bukanlah kewajiban. Dia mengaku ada beberapa warga yang ingin menyeberang tapi dengan uang yang pas-pasan.

“Ada yang ingin menyeberang pakai rakit, tapi uangnya di kantong tinggal sedikit. Katanya uang saya tinggal ini, saya jawab ya itu saja. Pada prinsipnya kan kami di sini ingin membantu masyarakat,” ceritanya.

Senyum ceria terpancar dari warga yang mengais rezeki dari rakitan bambu tersebut. Semangat tak surut menarik rakit meski harus rela basah dan dinginnya air sungai.

Mereka berharap, derita bencana yang menimpa segera surut, dan aktivitas kembali normal.

Sangadi Desa Kosio, Remi Dolot mengaku tak ingin mencampuri aktivitas warga membuka penyeberangan di sungai dengan cara jasa rakit bambu. Menurutnya, itu adalah aksi spontanitas warga.

“Artinya dengan itu, warga mendapat penghasilan, mendapat pencaharian dari situ, sekaligus membantu warga. Artinya, kami mengimbau agar aktivitas tersebut ada yang menjadi penanggung jawabnya,” singkatnya. (davidsumilat)

Pos terkait