Rekonstruksi dan Historiografi Sejarah Bolaang Mongondow

Murdiono Prasetio A. Mokoginta.

Oleh: Murdiono Prasetio A. Mokoginta

Sejak masih kuliah di Jurusan Sejarah Universitas Negeri Gorontalo, saya memiliki keinginan untuk ikut serta dalam merawat dan melestarikan sejarah Bolaang Mongondow.

Berkat kemauan yang kuat, setahap demi setahap saya terus maju mendobrak batas kemampuan diri sendiri hingga akhirnya harapan itu terwujud saat saya menerbitkan buku pertama yang berjudul ‘Permesta di Bolaang Mongondow Tahun 1956 – 1963’ pada 2018.

Di tahun yang sama, saya diajak oleh Mawardin M. Simpala, ketua Sahabat Kelapa Indonesia (SKI) untuk terlibat dalam penulisan buku bunga rampai ‘Mengembalikan Kejayaan Kelapa Indonesia’ bersama dengan Prof. Dr. Nelson Pomalingo (Bupati Gorontalo), Prof. Dr. Rasyid Asba Guru Besar Sejarah di Universitas Hasanuddin, Mawardin M. Simpala, Imam Pambagyo menjabat sebagai Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) Kemendag dan beberapa akademisi besar seperti Hasriadi Masalam, Doktoral University of Alberta Kanada. Ini adalah kali ke dua saya menulis buku.

Buku ini dilaunching pada Rekornas Koalisi Kabupaten Penghasil Kelapa (KOPEK) di Gorontalo, Mei tahun 2018 hingga mendapat sambutan hangat dari Amran Sulaiman yang ketika itu masih menjabat sebagai Mentri Pertanian RI.

Hampir seratus kepala daerah hadir pada rekornas ini. Hadir juga para penulis buku ‘Mengembalikan Kejayaan Kelapa Indonesia’.

Di antara mereka saya lah yang paling muda karena baru berusia 25 tahun, sementara dari segi wawasan dan pendidikan juga jauh berbeda karena saya sendiri baru saja menyelesaikan studi S1, sementara hampir semua penulis di buku ini telah menyandang gelar doktoral dan ahli di bidang mereka masing-masing.

Saya menulis dengan semangat dan hati-hati dalam menyusun kalimat demi kalimat sesuai kaidah resmi KBBI, karena tulisan ini masih akan diseleksi sebelum dipilih untuk terbit. Dengan kesungguhan akhirnya tulisan saya terpilih dan ikut diterbitkan di dalam buku bunga rampai ini.

Tulisan saya berjudul ‘Tinjauan Historis-Ekopol, Kelapa dan Kopra dalam Perspektif Nasional dan Lokal Sulawesi Utara’. Saya mengangkat sejarah perkelapahan di Sulawesi Utara, lebih khusus di Bolaang Mongondow dan sumbangannya bagi pembangunan provinsi sejak masih masa kerajaan hingga kini.

Semua pengalaman di atas menjadi pendorong dan memberi semangat bagi saya pribadi untuk terus belajar, memperluas wawasan dan pengetahuan agar bisa melahirkan karya-karya yang diharapkan bisa menambah referensi tentang Bolaang Mongondow di masa kini.

Berkarya bukan menuntut pengakuan, tapi lahir dari kesadaran bahwa masa lalu kita harus ditulis untuk menjadi pelajaran berharga bagi generasi-generasi yang akan datang.

Karya-karya yang mengulas tentang Bolaang Mongondow kenyataannya memang masih sangat kurang dan terbatas. Padahal banyak peristiwa penting yang pernah terjadi di daerah ini dan perlu diangkat kepermukaan supaya memperkokoh mentalitas masyarakat kita agar memiliki daya saing dalam menghadapi era globalisasi saat ini.

Semakin kuat akar sejarah suatu komunitas masyarakat, maka semakin menambah rasa percaya diri untuk terus maju dan bergerak terlibat aktif dalam lapangan pembangunan.

Mengapa bangsa China mengalami kemajuan pesat? Karena mereka memiliki ambisi untuk mengulang kembali kejayaan masa lalu mereka seperti di masa-masa kekaisaran yang pernah berjaya selama ribuan tahun lamanya.

Hampir semua negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan negara-negara lainnya di Eropa dan Asia sangat giat menelusuri akar sejarah mereka sebagai pijakan dan acuan untuk membangun dan melahirkan peradaban yang gemilang.

Di Indonesia jika kita menelusuri sebagian besar wilayah di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, dan lain-lain, begitu besar antusiasme mereka dalam melestarikan nilai sejarah dan budaya. Monumen peringatan dan julukan bersejarah disamatkan oleh semua orang bagi daerah-daerah di Indonesia yang memiliki sejarah.

Di antara wilayah-wilayah ini yaitu; Kota Surabaya yang dijuluki “Kota Pahlawan”, Kota Medan dijuluki “Kota Melayu Deli” untuk mengukuhkan sejarah Kesultanan Deli di sana, Kota Sabang yang dijuluki “Kota seribu benteng”, dan Aceh yang dijuluki “Kota serambi Mekkah”. Semua julukan ini memiliki akar budaya dan historis bagi masyarakat di sana.

“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” demikian kata Bung Karno. Saat kita kehilangan arah dan visi untuk membangun masa depan, maka kita harus melihat ke belakang dan menguatkan kembali jati diri. Semua elemen masyarakat di seantero Bolaang Mongondow Raya harus memikir ulang sejarahnya, menempatkan pada tempat yang semestinya dan menulis masa lalu.

Eksistensi Kerajaan Bolaang Mongondow yang pernah eksis tetapi minim catatan-catatan sejarah, periodesasi sejarah yang masih kurang jelas arahnya, serta pendidikan sejarah lokal di daerah yang sudah mulai tergusur perlu mendapat perhatian kembali.

Tiap individu-individu di daerah ini memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai sejarah dan kebudayaan untuk diwariskan pada generasi yang akan datang.

Rekonstruksi sejarah harus berlangsung terus-menerus tak boleh putus. Harus ada yang membuat inovasi-inovasi nyata untuk kemajuan bangsa khususnya daerah Bolaang Mongondow Raya yang kita cintai ini, dan perlu ada yang menuliskan sejarahnya.

Sebagaimana kata pribahasa “Ketika sebagian orang sibuk tentang masa depan, maka harus ada orang yang melihat masa lalu dan menuliskannya” begitu harapan saya untuk masa depan sejarah lokal kita.

Jangan sampai sejarah Bolaang Mongondow hanya dianggap dongengan karena kehilangan ‘nilai sejarahnya’. Sebagaimana kata Prof. A. Daliman (2012) dalam Pengantar Filsafat Sejarah, bahwa hakikat sejarah sebagai nilai (value) pada dasarnya ingin memberikan semacam justifikasi kepada jarih payah manusia dalam mempelajari sejarah.

Supaya memperoleh keyakinan bahwa apa yang dilakukannya tidaklah sia-sia. Untuk menghargai masa lalu sebagai warisan masa depan, mulai saat ini kita harus peduli akan nasib historiografi Bolaang Mongondow yang masih memprihatinkan.

Selama manusia masih beraktifitas dalam dimensi ruang dan waktu, maka tiap peristiwa dan keadaan yang terjadi adalah bagian penting yang membentuk sejarah manusia. Karena itu rekonstruksi sejarah perlu dilakukan terus menerus oleh tiap generasi yang masih memiliki rasa peduli dengan sejarahnya untuk diwariskan pada generasi yang akan datang.

Hal ini juga agar mereka tak kehilangan jati diri sebagai pijakan demi membangun masa depan yang lebih baik di dalam pusaran waktu.

 

Penulis adalah pengajar dan peneliti sejarah Sosial BMR. Menulis buku; Permesta di Bolaang Mongondow Tahun 1956 – 1963.

Bagikan ke temanmu
BAGIKAN

LEAVE A REPLY