Herd Immunity dan Tantangan New Normal

Oleh: dr. A.I. Riansyah Paputungan

Di tahun 1930-an, campak menginfeksi kota Baltimore, di negara bagian Maryland, Amerika Serikat. Dalam waktu singkat, campak menjadi wabah.

Ribuan anak menjadi korban. Banyak yang cacat, dan sebagian lagi bahkan mengalami kematian. Ketakutan dan kepanikan menghantui penduduk Baltimore saat itu.

AW Hendrich, seorang epidemiolog kemudian melakukan penelitian. Ia mengenali sebuah pola. Ia menemukan bahwa sejumlah anak yang belum mengalami infeksi campak, akan rentan mengalami infeksi tersebut.

Dan mereka yang telah mengalami infeksi, memiliki kekebalan terhadap campak dan dapat mencegah penyebaran virus. Ia kemudian mengajukan sebuah teori.

Menurut Hendrich, jika sebagian besar populasi telah kebal terhadap suatu infeksi, maka secara tidak langsung dapat melindungi populasi lain yang rentan atau belum pernah mengalami infeksi.

Disinilah Herd Immunity pertama kali diperkenalkan. Hal ini pula yang kemudian mendorong dibuatnya vaksin, sehingga angka kejadian infeksi dapat ditekan. Bahkan beberapa tahun kemudian di Baltimore, angka infeksi campak menyentuh angka nol. Nol yang dirawat, nol kecacatan, dan nol kematian.

Cerita hampir 100 tahun lalu di Baltimore, kini terulang. Kali ini melanda seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Infeksi virus SARS CoV2—yang kemudian dapat menyebabkan Covid 19– menyebabkan pandemi global.

Dari data yang dirilis organisasi kesehatan dunia World Health Organization (WHO) per 22 Juni 2020, virus ini telah menginfeksi 8,8 juta orang dan menyebabkan 460 ribu lebih kematian di seluruh dunia dalam 7 bulan terakhir. Seluruh dunia putar otak untuk mengatasi virus ini. Herd Immunity kembali digaungkan.

Herd immunity atau kekebalan komunitas sejatinya berasal dari kekebalan individu. Individu-individu yang kebal, diharapkan menjadi pelindung serangan virus pada suatu komunitas.

Mereka yang kebal dapat mencegah penyebaran virus terhadap mereka yang rentan dan belum terinfeksi. Komunitas yang pada akhirnya kebal, kemudian diharapkan dapat membentuk kekebalan pada struktur sosial yang jauh lebih besar dan luas.

Dalam kasus Covid 19, seseorang menjadi kebal terhadap suatu virus karena dua cara. Pertama, vaksinasi. Vaksinasi adalah solusi yang terbaik agar tercipta Herd Immunity di masyarakat. Namun hal tersebut sulit terealisasi dalam waktu dekat. Sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Jerman, bahkan Indonesia memang saat ini sedang mengembangkan vaksin.

Pembuatan vaksin yang biasanya memerlukan waktu 2-3 tahun dikebut. Seperti yang disampaikan Soumya Swaminathan, Kepala Ilmuwan WHO, ada lebih dari 200 kandidat vaksin, termasuk 10 diantaranya sedang dalam tahap uji klinis.

Uji klinis adalah tahapan yang dibutuhkan untuk memastikan efektifitas dan kemananan vaksin jika diberikan kepada manusia. Para ilmuwan memperkirakan vaksin baru akan tersedia di tahun 2021.

Atau paling cepat di akhir tahun 2020. Terlalu lama untuk ukuran pandemi. Tentu saja vaksin bukanlah solusi pilihan dalam waktu dekat.

Cara kedua agar terbentuk Herd Immunity di masyarakat adalah sejumlah populasi harus mengalami infeksi Covid 19 dengan cara alamiah, tanpa vaksinasi. Dengan  terinfeksi, diharapkan di dalam sistem imun seseorang telah terbentuk antibodi spesifik yang dapat mengalahkan virus.

Namun solusi ini termasuk cara yang sangat berisiko. Dari sebuah penelitian di Asian Pacific Journal of Allergy and Immunology, virus SARS CoV2 memiliki R0 (baca: R zero) atau reproductive number 2.2-2.6. R0 adalah istilah yang menggambarkan kemampuan suatu virus menyebar dari satu individu ke individu lain.

Artinya, jika seseorang terkena Covid 19, ia bisa menularkan virus ini kepada 2-3 orang terdekatnya. Sebagai perbandingan, virus lain seperti polio memiliki R0 di angka 6, flu burung di angka 1.5, dan campak di angka 14. R0 ini bisa bervariasi di setiap negara. Di Indonesia, R0 Covid 19 ada di rentang 1.5-3.5.

Dari pemodelan statistik yang dibuat oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) di bulan Maret 2020, Herd immunity tanpa adanya intervensi vaksinasi memerlukan jumlah populasi terinfeksi sekitar 70-80%. Jumlah yang sangat besar.

Setidaknya ada 189 juta penduduk terinfeksi, yang diantaranya 163 juta orang tanpa gejala, 21 juta sakit ringan, dan 5.7 juta dirawat di RS. Jika dimasukkan persentase tingkat kematian (Case Fatality Rate) akibat Covid 19 di Indonesia sebesar 6 persen, maka ada kemungkinan 9 juta lebih penduduk yang harus meninggal.

Dan kelompok yang paling rentan mengalami kematian adalah mereka yang memiliki penyakit komorbid (penyakit penyerta) seperti Hipertensi, Diabetes, Gagal ginjal, dan Penyakit Jantung. Mereka yang berusia lanjut dan anak-anak juga termasuk dalam kelompok ini.

Herd Immunity tanpa vaksinasi bukanlah pilihan yang ideal. Sejumlah pihak tidak setuju bahkkan mengecam pilihan ini. Direktur Ekesekutif WHO, Michael Ryan terang-terangan mengatakan bahwa Herd Immunity tanpa vaksinasi adalah hal yang sangat berbahaya.

Di dalam negeri, sejumlah pihak juga bersuara serupa. Aman Bakti Pulungan, ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga tidak rela anak Indonesia menjadi korban dari Herd Immunity tanpa vaksin, mengingat anak adalah populasi yang termasuk rentan terinfeksi. Situasi serba sulit. Tak ada jalan pintas untuk keluar dari pandemi.

Di tengah kondisi pandemi yang tak kunjung mereda, ekonomi kian lesu. Dalam laporan majalah Tempo edisi 30 Mei 2020, sejumlah pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang Industri (Kadin) ikut melobi pemerintah agar membuat protokol tatanan hidup baru yang bisa menunjang perekonomian agar tetap bergeliat.

Baca Juga: Jalan Tengah New Normal

Lahirlah istilah New Normal. Sebuah frasa yang erat kaitannya dengan kejadian di AS tahun 2008 saat AS mengalami resesi ekonomi. Saat itu pemerintah AS membuat kebijakan new normal untuk memulihkan sektor industri dan perbankan.

Pemerintah kemudian resmi membuat kebijakan new normal, dan telah diterapkan di sejumlah propinsi dan kabupaten kota. Life must go on. Ekonomi harus bangkit. Ada banyak orang yang penghasilannya terancam.

Pemerintah kemudian membuat protokol kesehatan di berbagai sektor untuk mencegah penularan virus. Masyarakat dihimbau untuk memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak di ruang publik. Namun dalam implementasinya, new normal memiliki banyak tantangan.

Kurangnya kesadaran masyarakat dalam mematuhi protokol, ditambah belum adanya sanksi yang tegas dari pembuat kebijakan membuat new normal bisa saja tak berjalan mulus. Hal ini bahkan sudah terjadi di sejumlah daerah yang belum menerapkan new normal.

Segelintir orang tidak mengenakan masker di ruang publik, abai dalam menjaga jarak, dan tidak paham mengenai pola hidup bersih dan sehat.

Jika protokol kesehatan tidak dipatuhi, maka secara tidak langsung kita telah mengambil pilihan Herd Immunity tanpa vaksinasi. Pilihan yang berbahaya. Kita rela sebagian besar dari kita terpapar infeksi.

Kita juga rela sebagian dari kelompok rentan harus meregang nyawa menghadapi Covid 19. Semoga semua hal yang menakutkan itu tidak terjadi. Dan semoga Herd Immunity kita nantinya adalah Herd Immunity yang lahir dengan vaksin, dengan nol kasus dan nol kematian, seperti di Baltimore.(**)

 

Penulis adalah Dokter di RSUD Kotamobagu, dan ikut serta menangani pasien Covid 19.

Tulisan ini dibuat untuk melengkapi tulisan Moerdiono Mokoginta, Jalan Tengah New Normal.

Bagikan ke temanmu
BAGIKAN

LEAVE A REPLY