[Editorial] Dihantui Gelombang Kedua Pandemi Corona

Oleh: David Sumilat

Ilustrasi. (Foto oleh cottonbro dari Pexels)

BFOX, EDITORIAL – Pada Selasa (14/4/2020) China mengklaim menemukan 89 kasus baru virus corona atau Covid-19, di tengah upaya meredam penularan, mencegah gelombang pandemi kedua terjadi.

Otoritas di China melaporkan, hampir semua kasus baru itu masuk dalam kategori imported case, yaitu penularan virus dari warga asing atau warga China yang baru datang dari luar negeri.

Di situs CNNIndonesia.com pada artikel berjudul: China Deteksi Kasus Baru Corona, Khawatir Gelombang 2 Pandemi, melaporkan hanya tiga kasus yang berasal dari penularan lokal.

China sendiri memiliki 82.249 kasus positif virus corona. Dari jumlah itu, 3.341 meninggal, dan sebanyak 77.738 orang dinyatakan sembuh.

Saat ini penyebaran virus corona di China berjalan lambat, termasuk di Hubei yang menjadi pusat penyebaran corona. Sebulan belakangan ini jumlah kasus baru turun drastis dibanding dua bulan lalu yang bisa bisa mencapai ribuan dalam sehari.

Setelah di ambang kemenangan untuk menghentikan transmisi domestik penyakit ini, China perlahan melonggarkan penguncian wilayah di seluruh negeri, termasuk di Wuhan yang menjadi tempat asal virus tersebut.

China Belum Aman

Tiongkok dihantui ancaman gelombang kedua pandemi Covid-19 yang berasal dari kasus luar.

Untuk menekan penyebaran kasus impor, China telah menetapkan kebijakan karantina dua pekan bagi seluruh pendatang dari luar negeri.

Masih dilansir pada artikel yang sama, 28 Maret lalu, Beijing melarang kedatangan warga asing ke China.

Tiga ratusan kasus baru telah dikonfirmasi pada hari Sabtu, termasuk 100 orang yang terinfeksi tanpa menunjukkan gejala apa pun.

Media pemerintah melaporkan para pelancong yang melintasi perbatasan dari Rusia menyebarkan virus corona di tempat itu.

Provinsi Heilongjiang yang berbatasan dengan Rusia, melaporkan total 56 kasus baru, 49 di antaranya berasal dari wisatawan yang berkunjung ke negara tersebut.

Baca Juga:  Pangeran Charles Terinfeksi Virus Corona

Pemerintah kota-kota di China yang berada di dekat perbatasan dengan Rusia menyatakan bakal memperketat kontrol perbatasan dan tindakan karantina pada saat kedatangan.

Tak hanya sampai di situ, laporan dari situs Tirto.id, pada artikel berjudul: Mengapa Cina dan Singapura Terancam Gelombang Kedua Corona? Menuliskan, China menghadapi kekhawatiran baru sejak laporan kasus harian merambat naik.

Berdasar data Worldometer, ada 108 kasus baru pada 12 April, meningkat dari sehari sebelumnya dengan 99 kasus, namun belum melampaui 143 kasus tertinggi setelah puncak kurva pada 5 Maret.

Penyebab kekhawatiran adalah munculnya gelombang Corona kedua yang menurut pemerintah Cina, berupa: Penularan virus oleh warganya yang pulang dari luar negeri dan orang tanpa gejala (OTG).

OTG atau dikenal asimtomatik di Cina kini jadi perhatian. Ahli epidemologi Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, 75 persen pasien di Cina yang tak menunjukkan gejala pada gilirannya menunjukkan gejala terinfeksi Corona. Keberadaan OTG menyulitkan pelacakan pasien, menurut laporan VOA Indonesia.

Cina merilis data OTG yang dites positif, meski dicurigai menutup-nutupi data, pada 5 April ada lebih dari 700 pasien yang tersebar di seluruh negara dan tengah dalam pengawasan ketat.

Peningkatan Kasus dari Singapura

Selain China, potensi gelombang kedua penyebaran virus corona juga mengancam Singapura, meski negara tetangga Indonesia ini, memperlihatkan keseriusan penanganan Covid-19.

Dalam laporan The Guardian yang dikutip dari Tirto.id, lebih dari 60 persen dari 1.000 kasus yang dikonfirmasi positif terjadi pada tiga minggu terakhir.

Sejak awal temuan kasus, laporan harian dengan ratusan pasien terjadi mulai 9-13 April.

Ada 386 kasus baru pada 13 April, tanpa ada kasus impor. Total kasus di Singapura mencapai 2.918. Pemerintah Singapura menerapkan aturan ketat mencegah penularan.

Ada hukuman penjara dan denda bagi warga yang melanggar aturan.

Baca Juga:  PROTOKOL PENANGANAN COVID-19

Baru-baru ini Singapura mengumumkan perlunya persetujuan bagi warganya yang memegang paspor jangka panjang saat akan kembali ke negaranya.

Selain itu, pemerintah setempat akan membatalkan paspor warganya yang melanggar aturan tinggal di dalam rumah. Pelarangan pengunjung dari luar negeri terkait dengan temuan kasus impor.

Pada 24 Maret, sehari setelah aturan pelarangan kunjungan dari luar negeri berlaku, Singapura mengumumkan 32 dari 49 kasus harian adalah kasus impor.

Perkembangan kasus Corona di Cina yang belum menandakan tanda berakhir dan Singapura yang mulai meninggi kasusnya seharusnya menjadikan negara lain, termasuk Indonesia semakin waspada.

Indonesia Harus Bersiap

Sejumlah ahli mengatakan Indonesia harus bersiap dengan kedatangan gelombang kedua Virus Corona, sebenarnya seperti apa gelombang kedua Virus Corona ini?

Salah satu peneliti yang mengungkap tentang gelombang kedua Virus Corona adalah Epidemiolog Indonesia kandidat doktor dari Griffith University Australia, Dicky Budiman.

Sebelumnya, sejumlah negara Asia juga telah mewaspadai datangnya gelombang kedua Virus Corona ini.

Menurut Dicky, pandemi covid-19 berpotensi memiliki beberapa gelombang serangan wabah, termasuk di Indonesia.

Dicky mengatakan, gelombang kedua Virus Corona adalah bila suatu wilayah telah mencapai puncak terkena Virus Corona, kemudian terjadi penurunan, setelah fase penurunan jumlah kasus tersebut terjadi lonjakan kasus lagi.

Adapun puncak kasus, kata Dicky, biasanya dihitung dengan attack rate di angka 3-10 persen penduduk merujuk data di Wuhan.

“Gelombang kedua biasanya menyerang hingga 90 persen penduduk yang belum terpapar tadi,” kata Dicky, Selasa (14/4/2020).

Jadi, selama belum ada vaksin dan pemerintah belum tahu tingkat kekebalan tubuh dari virus dcorona, sulit membayangkan kehidupan sehari-hari berjalan normal, kata Jason Kindrachuk, ahli mikrobiologi medis & penyakit menular Universitas Manitoba. (*)

Bagikan ke temanmu
VIADavid Sumilat
BAGIKAN

LEAVE A REPLY